Minggu, 23 November 2014

Dalam Diamku Ada Kamu



Kata Elly Risma, narkotika bisa merusak tiga bagian otak, pornografi bisa merusak lima bagian otak. Kamu, semuanya, bukan cuma otak


Tahukah dirimu, yang sering aku sebut namanya dalam setiap sujudku dan air mataku. Mungkin tak pernah terbayangkan olehmu bahwa aku diam-diam mengagumimu. Aku yang tersentuh akhlak muliamu, aku yang terkagum lekat dalam sikapmu, mencintaimu dalam diam mungkin lebih baik bagi diriku dan dirimu.

Aku hanyalah wanita biasa, seorang wanita dengan setiap kelemahanku. Aku bukan wanita yang baik, aku masih memiliki rasa iri dan benci. Aku bukan muslimah yang baik, karena aku masih sering lalai pada kewajibanku. Aku bukan calon istri yang baik, karena aku mungkin masih belum bisa berlapang dada menerima kekurangannya dan hanya terpukau pada kelebihannya. Aku juga bukan calon ibu yang baik, karena mungkin amarahku masih belum bisa aku tahan. Namun ketika melihatmu... aku selalu berusaha memperbaiki diri. Melaluimu aku berusaha menjadi muslimah yang baik, dan melaluimu aku ingin lebih dekat pada-Nya.

Tapi karenamu aku merasa sesak. Ingin rasanya aku membawa tebing tinggi sehingga bisa memisahkan jarak kita hingga tak terlihat bayangmu dan tak terdengar lagi suaramu. Namun ketika engkau jauh dariku aku selalu mencari bayang-bayangmu. Sebenarnya aku benci saat harus bertempur melawan pikiranku tentangmu. Aku benci saat konsentrasiku terganggu karena bayangmu. Aku benci saat hati ini bertanya, sedang apakah dirimu saat ini? Sejuta pertanyaan namun tidak satupun ada jawaban. Kenapa jadinya seperti ini?

Aku ingin menjaga hatiku, dengan tak pernah menatapmu meski hanya ujung lengan bajumu. Seperti yang engkau tahu, aku selalu menjauh darimu dan aku berusaha tak acuh padamu. Saat didepanmu aku selalu berusaha untuk berlaku normal meski itu sulit. Dan sampai akhirnya aku memutuskan untuk mencurahkan rahasia hati ini pada untaian kata demi kata yang mungkin akan membuatku jauh lebih baik.
 
Tak mengapa aku tak bertegur sapa denganmu. Cukuplah bagiku menyapamu dalam doa-doaku. Cukuplah bagiku tersenyum lezat melihatmu bahagia. Cukuplah bagiku menyebut namamu dalam setiap hamparan sajadahku.

Biarlah aku dekap rapat perasaanku ini. Jika memang engkau bukan tercatat untukku, dan jika memang engkau hanya hiasan duniaku yang sementara, sungguh aku yakin Allah akan menghilangkan perasaanku untukmu. Dia akan memberikan rasa yang lebih indah pada orang yang paling tepat. Begitulah kuasa-Nya. Begitulah Dzat yang mampu membolak-balikkan hati hamba-Nya.


Ketika aku tak lagi terkagum denganmu, maka pahamilah jejakku.. karena mungkin, aku pernah menulis tentangmu dan menyapa namamu dalam tiap untaian doaku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar