“Kata Elly Risma, narkotika bisa merusak tiga bagian otak, pornografi
bisa merusak lima bagian otak. Kamu, semuanya, bukan cuma otak”
Tahukah dirimu, yang sering aku sebut namanya
dalam setiap sujudku dan air mataku. Mungkin tak pernah terbayangkan olehmu
bahwa aku diam-diam mengagumimu. Aku yang tersentuh akhlak muliamu, aku yang
terkagum lekat dalam sikapmu, mencintaimu dalam diam mungkin lebih baik bagi
diriku dan dirimu.
Aku hanyalah wanita biasa, seorang wanita dengan
setiap kelemahanku. Aku bukan wanita yang baik, aku masih memiliki rasa iri dan
benci. Aku bukan muslimah yang baik, karena aku masih sering lalai pada
kewajibanku. Aku bukan calon istri yang baik, karena aku mungkin masih belum
bisa berlapang dada menerima kekurangannya dan hanya terpukau pada
kelebihannya. Aku juga bukan calon ibu yang baik, karena mungkin amarahku masih
belum bisa aku tahan. Namun ketika melihatmu... aku selalu berusaha memperbaiki
diri. Melaluimu aku berusaha menjadi muslimah yang baik, dan melaluimu aku
ingin lebih dekat pada-Nya.
Tapi karenamu aku merasa sesak. Ingin rasanya aku
membawa tebing tinggi sehingga bisa memisahkan jarak kita hingga tak terlihat
bayangmu dan tak terdengar lagi suaramu. Namun ketika engkau jauh dariku aku
selalu mencari bayang-bayangmu. Sebenarnya aku benci saat harus bertempur melawan
pikiranku tentangmu. Aku benci saat konsentrasiku terganggu karena bayangmu.
Aku benci saat hati ini bertanya, sedang apakah dirimu saat ini? Sejuta
pertanyaan namun tidak satupun ada jawaban. Kenapa jadinya seperti ini?
Aku ingin menjaga hatiku, dengan tak pernah
menatapmu meski hanya ujung lengan bajumu. Seperti yang engkau tahu, aku selalu
menjauh darimu dan aku berusaha tak acuh padamu. Saat didepanmu aku selalu
berusaha untuk berlaku normal meski itu sulit. Dan sampai akhirnya aku
memutuskan untuk mencurahkan rahasia hati ini pada untaian kata demi kata yang
mungkin akan membuatku jauh lebih baik.
Tak mengapa aku tak bertegur sapa denganmu.
Cukuplah bagiku menyapamu dalam doa-doaku. Cukuplah bagiku tersenyum lezat
melihatmu bahagia. Cukuplah bagiku menyebut namamu dalam setiap hamparan
sajadahku.
Biarlah aku dekap rapat perasaanku ini. Jika
memang engkau bukan tercatat untukku, dan jika memang engkau hanya hiasan
duniaku yang sementara, sungguh aku yakin Allah akan menghilangkan perasaanku
untukmu. Dia akan memberikan rasa yang lebih indah pada orang yang paling
tepat. Begitulah kuasa-Nya. Begitulah Dzat yang mampu membolak-balikkan hati
hamba-Nya.
“Ketika aku tak lagi terkagum denganmu, maka pahamilah jejakku.. karena
mungkin, aku pernah menulis tentangmu dan menyapa namamu dalam tiap untaian
doaku”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar